Langsung ke konten utama

Analisis Pengaruh Utang terhadap Perekonomian dan Kemiskinan di Indonesia 1949-2017


Dosen Program Studi Perbankan Syariah,
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam,
Institut Agama Islam Sahid (INAIS) Bogor

ABSTRAK

Sejak merdeka, Indonesia telah mengalami tujuh kali pergantian kepemimpinan nasional. Mulai dari Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hingga Joko Widodo. Selama itu pula, utang luar negeri selalu hadir untuk menambal defisit anggaran pembangunan. Utang diharapkan ikut menggerakkan roda perekonomian, menciptakan pertumbuhan, membuka lapangan kerja, dan mengentaskan kemiskinan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganaIisis pengaruh utang, inflasi dan perbedaan rejim pemerintahan terhadap pertumbuhan ekonomi.dan tingkat kemiskinan di Indonesia, mulai era Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi. Penelitian     menggunakan     data    sekunder    yang    diperoleh     dari   Bank Indonesia (BI),   Badan Perencanaan Pembangunan NasionaI (Bappenas), Badan Pusat Statistik (BPS), World Bank, dan sumber-sumber referensi lain seperti buku, jurnal maupun makalah ilmiah. Data yang dipakai adalah  nilai  utang luar negeri,  pendapatan nasional (Produk Domestik Bruto/PDB), populasi, jumlah dan rasio penduduk miskin, tingkat inflasi pada periode 1949 - 2017.
Hasil analisis regresi ganda dengan dummy variable (menggunakan program aplikasi Eviews 10) menunjukkan hasil sebagai berikut: Utang   luar   negeri   memiliki korelasi dengan  terhadap  kondisi perekonomian nasional, khususnya nilai Produksi Domestik Bruto Indonesia dan tingkat kemiskinan. Utang cenderung meningkatkan nilai PDB dan menurunkan angka kemiskinan. Dalam hal tata kelola utang sebagai pendorong perekonomian dan kemiskinan, Era Soeharto dan Era Habibie cenderung berbeda dan lebih baik dari Era Soekarno. Sementara tatakelola utang Era Abdurrahman wahid, Era Megawati, Era SBY dan Era Jokowi tidak berbeda atau tidak lebih baik dari Era Soekarno. Meski secara nasional dapat meningkatkan PDB dan menurunkan kemiskinan, utang tidak mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat (baca pendapatan perkapita). Utang luar negeri bahkan cenderung menurunkan tingkat kesejahteraan rakyat banyak. Ini berlaku untuk semua rezim pemerintahan.

Kata Kunci:  Inflasi, Indonesia, Kemiskinan, PDB, Pembangunan, Pendapatan, Utang



ABSTRACT

Since independence, Indonesia has experienced seven changes of national leadership. Starting from Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), to Joko Widodo. During that time, foreign debt is always present to patch the development budget deficit. Debt is expected to move the wheels of the economy, create growth, create jobs, and alleviate poverty.
This study aims to analyze the effect of debt, inflation and government regime differences on economic growth and poverty levels in Indonesia, from the Old Order era, the New Order, to the Reform Order. The study used secondary data obtained from Bank Indonesia, the National Development Planning Agency (Bappenas), the Central Bureau of Statistics (BPS), the World Bank, and other reference sources such as books, journals and scientific papers. The data used are the value of foreign debt, national income (Gross Domestic Product / GDP), population, number and ratio of the poor, inflation rate in the period 1949 - 2017.
The results of multiple regression analysis with dummy variable (using Eviews 10 application program) show the following results: Foreign debt has correlation with the national economic condition, in particular the value of Indonesian Gross Domestic Product and the level of poverty. Debt tends to increase the value of GDP and reduce poverty. In terms of debt governance as a driver of the economy and poverty, the Suharto and Habibie Era tend to be different and better than the Sukarno Era. While the debt management of Era Abdurrahman Wahid, Era Megawati, Era SBY and Era Jokowi no different or no better than Era Sukarno. Although nationally can increase GDP and reduce poverty, debt can not improve people's prosperity (read per capita income). Foreign debt even tends to reduce the level of welfare of the people. This applies to all government regimes.


Keywords: Debt, Development, GDP, Income, Inflation, Indonesia, Poverty



[1] Penulis adalah dosen ekonomi dan keuangan syariah pada Program Studi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam, INAIS-Bogor.

Naskah selengkapnya ada di edisi cetak. Jika berminat silakan kontak redaksi@el-mal.net

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prinsip-Prinsip Kepemilikan Harta Dalam Islam

Oleh Lukman Hamdani Dosen FEBI Institut Agama Islam Sahid (INAIS) Bogor
ABSTRAK
Harta adalah salah satu instrument yang terpenting dalam kehidupan ini, karena harta adalah adalah sebagai penunjang keberlangsukan kehidupan manusia,dalam Islam selalu ditekankan akan pentingnya kemandirian dalam memiliki harta melalui kerja atau usaha, karena sesungguhnya allah swt sangat mencintai hambanya yang selalu bersedekah/berinfaq/berzakat dengan harta nya sendiri. Allah swt sangat menyukai para pekerja keras atau orang yang gigih dalam mencari harta untuk kepentingan akhirat, bahkan Allah SWT tekankan dalam Surah at-taubah ayah 10. Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Bahkan para sahabat Rasulullah SAW adalah para orang kaya yang memiliki harta untuk kemajuan dan perke…

Biografi Singkat Reviewers El-Mãl

Empat pakar bersedia menjadi Reviewers (Mitra Bestari) dari jurnal El-Mãl: Mereka Prof. Dr. Musa Hubes, Dr. Ade Sofyan Mulazid, Dr. Lukman M Baga, dan Dr. Nurul Huda. Siapakah sebenarnya mereka? Berikut ini adalah profil singkatnya.
Prof. Dr .Ir. H. Musa Hubeis, MS, Dipl.Ing, DEA lahir di Jakarta, 26 Juni 1955. Seluruh pendidikan dasar dan menengah beliau dilakukan di ibukota, yaitu di SDN Mangga Besar I, SMPN XXVIII Budi Utomo, dan SMAN II. Gelar Sarjana dan Magister Sains diperoleh beliau pada Institut Pertanian Bogor. Beliau kemudian melanjutkan pendidikannya di Perancis hingga meraih gelar Diplôme d'Ingéneur(Dipl.Ing), Diplôme d'Etudes d'Approfondie (DEA), Docteur (Dr.) dalam bidang Teknik Sistem Industri.
Tecatat sebagai Guru Besar Manajemen Industri IPB, Musa Hubeis aktif melakukan penelitian tentang pembinaan dan pengembangan industri dalam skala kecil-besar, pertanian dalam arti luas, dan lain-lain (kewirausahaan, kemitraan usaha, pariwisata dan otonomi daerah). Dia …

Biografi Singkat Penulis Jurnal El-Mãl I

BIOGRAFI PENULIS JURNAL El-Mãl I 2018

Edisi perdana jurnal El-Mãl memuat enam makalah ilmiah karya dosen Fakulas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Sahid (INAIS) Bogor. Mereka adalah Dedi Junaedi, Jamaludin, Faisal, Yudi Permana, Rio Kartika Supriyatna, dan Lukman Hamdani. Siapakah mereka dan apa kiprahnya dalam riset dan pendidikan? Berikut ini adalah biografi singkat mereka.
Ir.H. Dedi Junaedi, M.Si., dosen tetap Prodi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Institut Agama Islam Sahid (INAIS) Bogor. Lektor ekonomi dan keuangan syariah ini mengampu mata kuliah: matematika ekbis, analisa statistik, fiskal moneter, pengantar manajemen bisnis, komunikasi bisnis, mikroekonomi syariah, etka bisnis syariah, dan Bahasa Indonesia. Lahir di Kuningan, Jawa Barat, 13 Juni 1964, dia alumni S-1 Teknologi Pangan & Gizi Fateta Institut Pertanian Bogor dan S-2 Ekonomi dan Keuangan Syariah Universitas Indonesia (UI) dengan predikat lulusan terbaik Psacasarjana UI 20…